Pencarian Lokasi Pasti Ibukota Majapahit di Kawasan Trowulan Jatim

Menelusuri jejak imperium terbesar di Asia Tenggara merupakan perjalanan arkeologi yang penuh dengan tanda tanya dan kekaguman. Mitologi Kerajaan sering kali menempatkan pusat kekuasaan ini dalam narasi yang megah namun sulit dibuktikan secara fisik secara menyeluruh. Hingga saat ini, proses Pencarian Lokasi yang absolut mengenai sisa-sisa kemegahan Ibukota Majapahit terus dilakukan oleh para peneliti dari berbagai penjuru. Fokus utama penelitian tersebut terkonsentrasi di sebuah wilayah dataran rendah yang sangat luas, yaitu di Kawasan Trowulan, sebuah daerah di Provinsi Jatim yang diyakini menyimpan fondasi peradaban yang pernah menyatukan Nusantara di bawah sumpah Palapa.

Berdasarkan data arkeologis dan naskah Negarakertagama, Mitologi Kerajaan ini memiliki gambaran kota yang dikelilingi oleh kanal-kanal air dan tembok bata merah yang kokoh. Namun, Pencarian Lokasi yang tepat untuk keraton atau istana pusat masih menjadi perdebatan karena minimnya sisa bangunan masif di atas permukaan tanah. Kebanyakan temuan di Ibukota Majapahit saat ini adalah berupa bangunan suci (candi), gapura, dan sisa-sisa pemukiman warga. Di Kawasan Trowulan, para arkeolog menemukan ribuan fragmen terakota yang menunjukkan betapa tingginya tingkat peradaban seni dan ekonomi masyarakat Jatim pada abad ke-14 silam.

Tantangan dalam Pencarian Lokasi ini adalah banyaknya struktur yang tertimbun akibat endapan material vulkanik dari letusan gunung berapi di masa lalu. Mitologi Kerajaan Majapahit yang sangat kuat harus dibuktikan dengan ekskavasi yang sangat hati-hati di bawah lahan pertanian warga. Ibukota Majapahit diperkirakan mencakup area seluas 11 x 9 kilometer persegi, sebuah ukuran kota metropolitan yang sangat maju pada zamannya. Pengelolaan di Kawasan Trowulan menjadi isu yang sensitif karena adanya gesekan antara kepentingan pelestarian sejarah dan perkembangan ekonomi masyarakat lokal di Jatim. Tanpa perlindungan zonasi yang ketat, bukti-bukti sejarah ini bisa hancur oleh pembangunan pemukiman modern.

Situs pemandian Segaran dan Candi Tikus memberikan gambaran tentang sistem drainase dan tata air yang sangat canggih di Ibukota Majapahit. Hal ini memperkuat Mitologi Kerajaan yang menyebutkan bahwa Majapahit adalah kerajaan agraris sekaligus maritim yang unggul. Dalam proses Pencarian Lokasi ini, teknologi LiDAR mulai digunakan untuk memetakan struktur bawah tanah tanpa merusak permukaan. Temuan-temuan di Kawasan Trowulan membuktikan bahwa peradaban masa lalu di Jatim telah mengenal konsep tata ruang kota yang terstruktur dengan pembagian blok-blok pemukiman berdasarkan kasta dan profesi, mirip dengan konsep manajemen kota modern.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org